Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kata yang lagi Ngetrend di Pake Para Anggota Dewan

Masih ingat kata "Alhamdulillah Ya? " " Sesuatu Banget "?
Ya kata tersebut seringkali diucapkan oleh artis wanita yang terkenal dengan tembang "Aku Tak Biasa " itu. Kata tersebut menjadi trend didalam masyarakat. Publik Figur selalu menjadi sorotan baik oleh media maupun masyarakat, yang menjadi sorotoan adalah kehidupan pribadi, baik tingkah laku maupun ucapan. Nah bagaimana dengan para pejabat,anggota dewan yang berada dibalik gedung mewah itu?


Para anggota dewan tidak mau kalah saing dengan trend "Sesuatu atau Alhamdulillah ya ", mereka (anggota dewan dan sejenisnya :D) mempunyai trend sendiri.




Kalimat "Saya Akan Mundur, jika dalam satu tahun gagal.. bla bla bla bla " sekarang menjadi trend dikalangan anggota dewan. Saat baru saja menjabat jabatan baru, para anggota dewan mengucapkan kalimat tersebut sebagai penegas komitmennya sebagai wakil rakyat. Namun ucapan tersebut hanyalah sebuah ucapan yang abstrak. Ingat pepatah mengatakan "Lidah Tak Bertulang ", artinya apa? bahwa sesuatu yang diucapkan sangatlah mudah untuk diingkari. Seandainya anggota dewan yang mengucapkan kalimat " Saya Akan Mundur, Jika dalam satu tahun gagal..bla bla bla " dalam bentuk tertulis yang ditanda-tangani, kemungkinan bisa dijadikan bukti apabila sang anggota dewan tersebut ternyata benar-benar gagal. Tapi yang menjadi persoalan adalah apakah bisa anggota dewan tersebut dituntut? Wong yang korupsi miliaran rupiah saja belum tertangkap apalagi yang korupsi ucapan dan waktu :)


*hanya opini dari seorang wartawan lepas*


Selengkapnya..
share on facebook

Ketika Airmata Prita Mulyasari Terlupakan oleh Media

Masih ingat kah anda ketika seorang wanita yang bernama Prita Mulyasari mengeluhkan akan kurangnya layanan rumah sakit dimana ia berobat? Keluhan yang disampaikan menjadikan Prita Mulyasari menjadi tersangka dengan kasus Pencemaran nama baik. Ironis sekali seorang pasien yang mengeluhkan akan buruknya layanan yang ia terima malah dianggap pencemaran nama baik. Kasus yang naik kemeja hijau ini pun tersorot oleh media yang ada di Indonesia,dukungan-dukungan pun bermunculan baik didunia nyata maupun didunia maya. Dari dunia maya terbentuklah dukungan "Koin Untuk Prita" yang terealisasi kedunia nyata. Koin yang terkumpul dapat membayar sejumlah angka yang dituntut oleh rumah Sakit tersebut. Dukungan dari rakyat Indonesia terhadap Prita patut diacungi jempol dan kasus yang bergulir dimeja hijau tersebut pun membebaskan Prita Mulyasari dari tuntutan.




Prita Mulyasari ditemui Ibu Megawati,tapi apakah sekarang dibalik jeruji ia masih ditemui oleh Media dan Ibu Megawati?


Namun tampaknya kebebasan Prita Mulyasari tidak sebebas para pendukungnya, saat situasi mulai reda, media sudah beralih sorotan, dan dukungan pun mulai surut, Prita Mulyasari kembali dinaikan diatas meja hijau berkat naik banding yang dilakukan. Alhasil dari Prita Mulyasari harus kembali mendekam dibalik jeruji layaknya penjahat kelas kakap. Saat itu dipertanyakan kembali prioritas media, prioritas rakyat Indonesia, Dimana mereka saat Prita meneteskan air mata untuk kedua kalinya? Media terlalu sibuk dengan isu-isu baru yang ditampilkan oleh pemerintah. Rakyat terlalu sibuk dengan berita-berita baru yang disajikan oleh media sehingga melupakan apa yang terjadi pada Korban Lapindo, Korban Merapi dan pastinya lupa apa yang terjadi pada Prita Mulyasari.


Kasus yang terjadi pada Prita menguatkan statemen yang selama ini terekam di otak kita bahwa "hukum itu bukan milik rakyat kecil". Yang mempunyai uang banyak terbebas dari hukum malah rakyat kecil menjadi korban ketidak adilan. Negara ini menjajah rakyatnya sendiri melalui undang-undang yang hanya berpihak pada golongan tertentu saja.


Prita Mulysari, dukungan yang surut serta media yang melupakan mu menjadi senjata tajam untuk menzhalimi mu. Do'a dan tulisan ini sebagai tanda dukungan terhadap dirimu. Meskipun dirimu tidak mengenal bahkan tidak pernah tau tentang tulisan ini, percayalah, Allah Selalu Bersama orang-orang yang benar. Kesabaranmu akan dibalas oleh Allah dengan seribu kebaikan lebih dari apa yang dirimu rasakan saat ini.

Selengkapnya..
share on facebook

Wilayah di Caplok Salah Siapa?

Akhir - Akhir ini media kembali menyorot berita tentang pencaplokan wilayah Indonesia oleh negara tetangga. Wilayah yang di caplok tersebut konon nya masih berstatus " di rundingkan ". Terkait hal itu nasionalisme warga Indonesia pun mencuat dengan adanya pencaplokan wilayah tersebut. Namun siapakah yang harus bertanggung jawab atas pencaplokan wilayah tersebut?

Sering kali wliayah - wilayah di perbatasan menjadi rebutan antar dua negara, ingin menguasai wilayah yang tiada penghuni, wilayah yang kaya akan alam nya, atau juga wilayah yang ada penghuni, kaya dengan alam, namun tidak di perhatikan oleh negara si pemilik wilayah tersebut.

Wilayah perbatasan sering sering terlupakan atau kata lain nya di anak tirikan oleh negara berbanding wilayah - wilayah yang dekat dengan ibu kota. Prasarana yang belum tersedia seperti listrik, sekolah, jalan yang beraspal dan sebagainya sudah melekat di daerah perbatasan. Nah disini peran pemerintah itu di pertanyakan, kemana saja pemerintah selama ini? ketika media menyorot berita pencaplokan baru pemerintah kebakaran jenggot. Jikalau negara tetangga mungkin melihat bahwa wilayah tersebut yang penduduknya terlupakan oleh pemerintah Indonesia dan mempunyai niat untuk mensejahterakan penduduk setempat apa hal tesebut salah? Jikalau salah apa kah pemerintah Indonesia sendiri mampu menyediakan prasarana yang di perlukan oleh penduduk di perbatasan?

Selengkapnya..
share on facebook